Tetua Adat Saran Seba Baduy

Tetua Adat Saran Seba Baduy

Tetua Adat Saran Seba Baduy – Adat Seba Baduy menjadi wisata Banten dan ritual peninggalan nenek moyang Urang Kanekes sudah secara temurun.

Sekarang jadi salah satunya moment rekreasi yang ditunggu-tunggu, baik oleh wisatawan lokal sampai internasional.

Tetua Adat Saran Seba Baduy di Banten Digelar 30-31 Mei, Didatangi Perwakilan

Karena sangat besarnya ketertarikan warga pada adat ini, tidak bingung Seba Baduy selanjutnya ditempatkan sebagai 100 Calendar of Moment Kementerian Pariwisata Indonesia.

Baca Juga: Dapat Surat Terbuka dari Eiger

Dia menyarankan supaya ritus Seba Baduy dikerjakan pada 30-31 Mei 2020 dan didatangi oleh 30 orang sebagai perwakilan.

Jumlah perwakilan itu terdiri dari 3 tangtu, tujuh dangka, instansi tradisi, dan instansi dusun. Karena itu, Jaro Saija minta Ibu Gede (panggilan untuk kepala pemerintahan), Bupati Lebak Iti Octavia dan Bapak Gede Gubernur Wahidin Halim agar bisa merestui saran itu.

Jaro Saija menjelaskan jika dengan cuman didatangi perwakilan, karena itu ketentuan pemerintahan tidak untuk berkerubung dan jaga jarak bisa dilaksanakan secara baik.

Dengan perwakilan 30 orang yang datang, dapat dilaksanakan menjaga jarak sesuai prosedur kesehatan itu,” kata Jaro Saija saat dijumpai Di antara di rumah tinggalnya di Dusun Kanekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak pada Sabtu (16/5).

Menurut pembicaraan Jaro Saija, surat pengusulan adat Seba Baduy telah dikatakan ke sekretariat Pemerintahan Kabupaten Lebak, dan Propinsi Banten. Warga Baduy saat ini sedang menunggu keputusan pemda di tempat dalam melakukannya.

Acara Adat Tradisional Seba Baduy

Penerapan adat Seba Baduy menjadi sebuah ritus harus dan penting dari warga tradisi Urang Kanekes. Ritus ini sudah berjalan semenjak jaman kerajaan, terhitung saat kerajaan Islam Kesultanan Sultan Hasanudin Banten memerintah.

Dengan bahasa Baduy, “Seba” bermakna seserahan. Karena itu, dalam Seba Baduy, Urang Kanekes atau yang lebih terkenal dikenali sebagai warga Baduy akan bawa hasil buminya, turun dari gunung untuk diberikan pada pemerintahan di tempat atau yang dipanggil sebagai Penggede.

Menurut Plt Kadispar Lebak, Imam, adat Seba punyai pengertian yang lebih bernilai kembali. Kecuali sebagai peninggalan nenek moyang yang harus dikerjakan tiap tahun, adat Seba mempunyai makna jika Urang Kanekes akui sebagai sisi dari Republik Indonesia.

Penyerahan seserahan ini jadi langkah mereka merealisasikan rasa hormat pada pimpinan-pimpinan di wilayah sekalian bersilaturahmi. Seserahan yang dibawa biasanya ialah hasil pertanian seperti pisang, padi, gula aren, atau palawija.

Suku Baduy Masih Bebas Virus Corona, Apa Rahasianya?

Seperti udara, virus corona bergerak penuhi tiap pojok ruang, menebar dengan masif ke bermacam daerah, sampai tempatkan beberapa orang dalam kehati-hatian. Sekarang, tiap negara tengah berlomba-lomba untuk mendapati vaksin COVID-19.

Mereka berlomba dalam jumlah infeksi dan kematian yang makin hari makin bertambah. Dimulai dari PSBB (Limitasi Sosial Bertaraf Besar), lockdown, sampai test swab massal terus dilaksanakan untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus. Tetapi, entahlah bagaimana triknya, virus corona selalu sukses masuk di wilayah paling susah sekalinya.

Jauh di pedalaman sana, ada sekumpulan orang yang kenyataannya sukses amankan wilayahnya dari paparan virus SARS-CoV-2. Mereka ialah Suku Baduy Dalam yang hidup di tengah-tengah rimba dan pohon-pohon di Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Karena lockdown ala-ala kearifan lokal, masyarakat Baduy terlepas dari wabah corona sesudah 3 bulan paling akhir jalani penerapan Ritus Dampingiu.

Saat wabah virus corona menebar ke bermacam seluruh dunia, waktu itu juga Ritus Dampingiu diadakan oleh masyarakat Baduy. Batasi gerak warga dan mengamankan daerahnya dari warga asing.

Ritus Dampingiu sendiri diadakan saat Hari Raya Dampingiu, diambil dari istilah ngawalu yang bermakna bulan-bulan dampingi (awalnya). Dampingiu terdiri jadi tiga babak, yaitu bulan Dampingiu tembay (awal), Dampingiu tengah, dan Dampingiu Tutug yang mempunyai makna penutup. Dampingiu sebagai bulan-bulan paling disegani dan disyukuri, diikuti saat padi mulai berbunga sampai periode panen selesai.

Serangkaian acara tradisi Ngawalu akan ditutup dengan Ngalaksa yang dikerjakan pada periode waktu itu. Perayaan tahun ini diselenggarakan di bulan Februari sampai Mei 2020. Sepanjang perayaan berjalan, Suku Baduy tidak terima tamu atau beberapa pelancong asing yang umum bertandang ke pemukiman mereka.

“Ritus Dampingiu itu masyarakat Baduy Dalam yang menyebar di daerah Cikeusik, Cibeo, dan Cikawartana tertutup untuk pengunjung atau pelancong,” tutur Jaro Saiji, Tetua Baduy yang Kepala Dusun Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, seperti diambil dari Di antara.

Ketertarikan Tetua Adat Seba Baduy Menjadi Tempat Wisata

Masyarakat Baduy akan konsentrasi pada serangkaian acara yang mereka rencanakan. Kecuali jalani ritus, warga Baduy yang dengan penduduk lebih kurang 11.600 jiwa masih jalani kehidupan seperti umumnya. Ke kebun untuk meningkatkan budidaya pertanian pangan, hortikultura, dan palawija. Memetik dan meningkatkan madu alami, gula aren, dan menghasilkan kerajinan kain tenun.

Saiji menjelaskan, sampai sekarang ini belum diketemukan anggota Suku Baduy yang positif virus corona. Dia bahkan juga jamin pemukiman Baduy dapat terlepas dari penyakit COVID-19.

Sepanjang wabah corona berjalan, masyarakat Baduy tidak dibolehkan untuk ke luar wilayah, ditambah ke zone merah penebaran virus corona seperti Jakarta, Depok, Bekasi, dan Bogor.

Anggota Baduy yang tinggal dan ada di tanah rantau disarankan untuk selekasnya pulang ke desa halaman, sudah pasti harus jalani rangkaian test kesehatan lebih dulu saat sebelum mereka balik ke wilayahnya. “Kami meminta masyarakat Baduy supaya masih ada di kebun atau rumah buat menahan wabah COVID-19,” kata Saiji.

Apa yang dilaksanakan Suku Baduy ialah lockdown yang dihidangkan dalam budaya lokal. Meledaknya wabah corona bersamaan dengan perayaan Ritus Dampingiu, di mana salah satunya ritusnya ialah mengamankan beberapa orang dari dunia luar. Ritus dampingiu bentuk dari kesuksesan daerah dalam memutuskan mata rantai penyebaran, dengan menutup orang pada sebuah daerah.

Per Minggu (17/5), jumlah kasus virus corona di Indonesia sudah capai 17.514 kasus, di mana 1.148 jiwa wafat, dan 4.129 orang yang lain dipastikan pulih.

Mengantisipasi Virus Corona, Rekreasi Baduy Luar Ditutup Sementara untuk Pelancong

Hadapi imbas virus corona COVID-19 yang mulai menebar di Indonesia, membuat beberapa tempat rekreasi mau tak mau ditutup.

Penundaan Adat Suku Baduy

Penundaan itu dilaksanakan sepanjang dua minggu, terhitung semenjak Senin (16/3) sampai Senin (30/3). Dalam surat selebaran yang diterima kumparan, Kepala Dusun Kanekes, Jaro Saija, menghimbau warga Baduy supaya tidak keluar dari rumah dan berkunjung beberapa kota besar bila dalam soal yang kurang penting.

“Kepala Dusun Kanekes menghimbau ke semua warga untuk kurangi dan tidak lakukan lawatan ke beberapa kota besar, terkecuali pada kondisi mendesak (darurat),” kata Jaro Saija.

Disamping itu, warga Baduy yang barusan bertandang ke beberapa kota besar dan mempunyai tanda-tanda COVID-19, seperti batuk, flu, demam tinggi, dan napas sesak diinginkan untuk periksakan keluh kesah itu ke rumah sakit paling dekat.

Bukan hanya itu, warga Baduy disarankan supaya mempertahankan kesehatan dan kebersihan di lingkungan rumah. Hal tersebut dilaksanakan dengan jaga kebersihan tangan, jaga kekebalan, dan makan-makanan yang sehat.

Baduy Luar sebagai tempat wisata tradisi budaya yang berada di Kabupaten Lebak, Banten. Di situ pelancong bisa nikmati keelokan alam dan kearifan lokal.