Adat Ratus Tahun Suku Baduy

Adat Ratus Tahun Suku Baduy

Adat Ratus Tahun Suku Baduy – Beberapa ribu pasang kaki berjalan beriring. Antara mereka ada yang kenakan pakaian putih-putih.

Dimulai dari ikat kepala sampai kaki. Sementara yang lain terlihat kenakan ikat kepala warna biru dengan baju hitam.

Seba Baduy: Adat Beberapa ratus Tahun Suku Baduy Luar dan Baduy Dalam

Tanpa menyambat mereka berjalan demikian jauhnya. Muka mereka merona. Bukan lantaran malu, tetapi karena panasnya cahaya mentari di kota membuat muka mereka yang umum diam di gunung turut memeras.

Baca Juga: Indonesia Tutup Pintu untuk WNA

Tanpa alas kaki, beberapa pria yang dikenali sebagai Urang Kanekes atau warga Baduy itu berjalan bersama. Mereka tidak perlu kontribusi kendaraan motor beroda 2 apa lagi empat.

Di tengah-tengah arus modernisasi yang menuntut beberapa orang untuk secara cepat, memercayakan suatu hal yang instant, orang Baduy malah masih setia bertahan dengan nilai-nilai tradisi dan tradisinya. Salah satunya adat Baduy yang memikat perhatian luas wisman dan warga ialah Seba Baduy.

Sebuah adat tahunan yang sudah bertahan sepanjang beberapa ratus tahun. Dengan bahasa Baduy, “Seba” bermakna seserahan. Karena itu, dalam Seba Baduy, Urang Kanekes akan bawa hasil buminya, turun dari gunung untuk diberikan pada pemerintahan di tempat atau yang dipanggil sebagai Penggede.

Menurut sejarawan Asep Kambali, adat Seba sebagai adat membuat perlindungan kehidupan Urang Kanekes. Karena Urang Kanekes yakin jika Seba sebagai perkataan rasa sukur berbentuk bagi-bagi hasil bumi.

Adat Seba tak terbatas, karena dilaksanakan baik oleh Baduy Luar atau Baduy Dalam. Baduy Luar ialah komune Baduy yang telah lebih terbuka, baik pada info atau tehnologi.

“Tradisi-tradisi itu lebih kuat di Baduy Dalam. Tetapi, untuk Seba ini, keyakinan sebagai rasa sukur ini dilaksanakan oleh Baduy Luar dan Baduy Dalam. Mereka yakin jika dengan lakukan Seba, lingkungan mereka akan aman,” kata pria yang dekat dipanggil Kang Asep, ke kumparan.

Penyerahan hasil bumi pada Penggede, baik Ibu Gede atau Bapak Gede dilaksanakan langsung oleh Urang Kanekes sekalian dipegang oleh ketua tradisi atau yang dikatakan sebagai Puun. Penyerahan dilaksanakan pada Bupati Lebak yang selanjutnya diteruskan ke Gubernur Banten di Pandeglang.

Seba Adat Ratus Tahun Suku Baduy Sebagai Festival Pariwisata

Seba Baduy di periode sekarang tidak sekedar jadi adat semata, tetapi jadi sebagai festival dan pertunjukan rekreasi. Ritus harus sebagai adat temurun dari leluhur Urang Kanekes itu saat ini berubah jadi acara tradisionil untuk menarik pelancong.

Lalu, apa Orang Baduy sendiri berasa nyaman dengan hal tersebut? Apa lagi ingat jika ada Baduy Dalam yang tidak senang diabadikan, tidak mau bersinggungan dengan tehnologi atau dunia luar begitu jauh.

Dalam perbincangan bersama kumparan, Imam mengaku jika warga Baduy sendiri tidak mau jadikan adat mereka sebagai festival. Tetapi, pemerintahan di tempat menyaksikan ada kesempatan menarik dengan manfaatkan kearifan lokal, diantaranya adat ini sebagai moment pariwisata.

Jika mereka masih ritusnya Seba, Seba Baduy. Dalam pengertian Seba itu mengirim hasil pertanian mereka ke pimpinan, tidak lebih,” tutur Imam.

Imam menambah jika semenjak dulu, Baduy memang dikenali karena kearifan lokalnya. Warga tidak pernah ingin ‘diperjualbelikan’ atau menetapkan harga tertentu. Untuk memperoleh ijin supaya Seba Baduy dapat jadi festival, Bupati Lebak perlu lakukan pendekatan dengan Puun (figur tradisi).

Wisata Adat Suku Baduy Dalam Dan Baduy Luar

Saat lakukan pendekatan, Pemda menerangkan jika Seba akan dikenalkan sebagai adat tradisi budaya tradisionil yang bertahan di dalam tengah zaman globalisasi. Bahkan juga masihlah ada warga yang ingin melestarikan alam serta pilih menghindar modernisasi.

“Jika kita terangkan ke Puunnya, contoh ke olot-olot (beberapa orang yang dituakan), (adat Seba) dibungkus dan dipasarkan, kelak banyak pelancong, itu mereka tidak akan ingin sebenarnya, getho. Karena itu sampai saat ini kenapa pelancong luar negeri hanya sampai Baduy Luar, tidak sampai Baduy Dalam, karenanya tidak dibolehkan, menurut ketentuan tradisi,” imbuhnya menerangkan.

Karena Seba Baduy sebuah adat temurun yang tidak dapat terganggu tuntut, karena itu harus, pemda juga perlu turut dengan ‘aturan mainnya’. Pemerintahan di tempat tidak dapat mengagendakan tanggal tentu untuk adat Seba saat sebelum Puun Baduy mendapatkan wangsit dari beberapa olot.

Perihal ini pula yang dianggap Imam terkadang memunculkan permasalahan tertentu, khususnya untuk lakukan promo. Ditambah karena adat Seba Baduy telah masuk ke 100 Calendar of Moment Kementerian Pariwisata.

Hingga, meskipun pemda siap dengan serangkaian rutinitas acaraya, mereka harus menanti tanggal tentu dari Urang Kanekes. Karena, Urang Kanekes mempunyai sistem penanggalan tertentu yang lain dengan kalender Gregorian yang dipakai setiap hari.

“Nach, Baduy antiknya di sana. Sehingga kita, pemerintahan, tidak dapat mendesak, harus tanggal demikian, bulan ini. Kita malah menanti wangsit atau menanti petuah dari Puun, sampaikan ke pemerintahan umumnya berupa surat,” katanya Imam.

Tahun ini adat Seba Baduy diprediksi akan berjalan sesudah Lebaran. Adat itu sebagai acara penutup sesudah ritus Ngawalu (berpuasa sepanjang 3 bulan) dan Ngaraksa (share hasil bumi pada saudara dan tetangga).

Kamu ketarik saksikan secara langsung adat ini?

Jalanin Ritus Tradisi Dampingiu, Baduy Dalam Ditutup 3 Bulan Teritori Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, akan tertutup untuk pelancong lokal atau luar negeri sepanjang adat Dampingiu. Penerapan adat ini akan diawali sepanjang 3 bulan, terhitung semenjak tanggal 25 Februari sampai 30 Mei 2020 atau menurut penanggalan tradisi Baduy 01 Dampingiu Tembey (pertama) sampai 01 Bulan Safar.

Sepanjang melakukan Dampingiu, warga Baduy Dalam akan berpuasa sepanjang 3 bulan dan lakukan ritus tradisi yang lain. Walau demikian, beberapa pelancong masih dibolehkan bertandang ke Baduy Luar yang berada di Ciboleger, Kabupaten Lebak, Banten.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Imam Rismahayadin, menjelaskan jika sepanjang ditutup tamu yang dibolehkan masuk di teritori Baduy Dalam cuman dari Lembaga pemerintahan dan tamu yang mempunyai arah khusus seperti ziarah.

Adat Dampingiu adalah perwujudan kepercayaan spiritual warga Baduy Dalam yang disebut warisan leluhur mereka. Sepanjang Dampingiu, mereka rayakan hasil panen padi huma, hal tersebut direalisasikan dengan berpuasa dan tinggal di dalam rumah.

“Benar (ditutup). Sementara dilarang masuk khusus pelancong yang ke Baduy Dalam, karena bulan Dampingiu menurut kalender mereka. Jika Baduy luar bisa didatangi,” kata Imam saat dikontak kumparan, Kamis (5/3).

Penutupan daerah Baduy Dalam dilaksanakan untuk jaga kekhusyukan serangkaian beribadah mereka. Disamping itu, sepanjang ditutup diinginkan kelestarian alam kembali utuh, seperti jejak-jejak sepatu yang ditinggal pelancong raib.

Berjalan sepanjang 3 bulan tiap tahunnya, Dampingiu berisi doa-doa untuk meminta keselamatan alam dan manusia. Dalam 3 bulan itu, mereka akan berpuasa sepanjang hari setiap bulannya.

Adat ini ialah sisi dari beribadah keyakinan Sunda Wiwitan yang diyakini Suku Baduy Dalam. Sepanjang Dampingiu berjalan, pelancong lokal atau asing tidak dikenankan masuk di tiga daerah Baduy Dalam, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik, di Kabupaten Lebak, Banten.